Rabu, 21 November 2012

TERCELANYA TAMAK DAN KEUTAMAAN QONA'AH



B
apak Ibu yang dimuliakan Allah, tidak terasa kita berada dipenghujung tahun 1433 H artinya sebentar lagi akan kita meninggalkannya dan kita songsong datangnya  tahun baru 1434 H dengan penuh harapan, dengan bergantinya tahun tentunya ada yang bertambah ada pula yang berkurang, apa yang bertambah  ? (umur), dan yang apa berkurang ? (jatah hidup kita juga ikut berkurang setahun). Menyadari hal yang demikian ini maka
saat  saat seperti  ini merupakan moment yang tepat bagi kita untuk mengadakan introspeksi atau mawas diri atas amal ibadah kita  setahun terakhir ini, apa saja yang telah kita perbuat ?. Ada dua hal penting yang perlu  kita perhatikan yaitu :

Yang pertama, seberapa banyak kebaikan yang telah kita perbuat, seberapa  banyak manfaat diri kita bagi orang lain dan bagaimana upaya kita selanjutnya untuk meningkatkannya menjadi lebih baik dan lebih baik,
Yang kedua, seberapa banyak dosa dan kemaksiatan yang telah kita perbuat, seberapa sering kita berbuat menyakiti hati dan merugikan orang lain serta bagaimana cara kita selanjutnya untuk mencari solusi mengurangi perbuatan perbuatan buruk tersebut.

Kalau sekiranya ketika mawas diri, masih kita dapati misalkan sifat tamak atau serakah yang merupakan indikasi penyakit hati,  maka diawal tahun 1434 H  mari  kita jadikan tahun khusus untuk mengobati dan menyembuhkan penyakit hati ini.
Bapak Ibu yang dirahmati Allah apa yang dimaksud tamak itu ? tamak itu adalah akhlak yang tercela yaitu sifat serakah, sifat rakus, ingin memiliki melebihi dari apa yang dibutuhkan tanpa menghiraukan orang lain. Sifat tamak itu dianalogikan dengan babi, babi itu binatang paling serakah didunia, tidak peduli dengan temannya, apa saja yang ada didepannya pasti dimakannya,  kalau tidak ada makanan tanah pun dimakan bahkan kotorannya sendiri kalau terperlu dilahapnya juga.Orang yang memiliki sifat tamak akan sangat mudah tergelincir pada perbuatan dosa. Salah satu contoh dalam mencari nafkah/ rejeki misalkan, orang yang tamak lebih suka mengambil jalan pintas yaitu dengan berbuat korupsi, ingin memperkaya diri sendiri dalam tempo yang cepat seperti yang dilakukan  para koruptor. Orang tamak itu dalam mencari harta tidak pernah memikirkan orang lain, yang penting baginya bagaimana dia mendapatkan harta itu sebanyak banyaknya entah itu dengan cara yang halal atau dengan cara yang haram. Dia tidak pernah memikirkan akibat negatifnya yang bisa merusak segala sendi kehidupan terutama ekonomi bangsa.
Oleh sebab itu sifat  tamak itu harus kita kendalikan, penyakit ini harus kita obati, kalau tidak akan merusak amal ibadah kita, karena apa ? karena sifat orang yang tamak itu kurang ....terus, tidak pernah ada puasnya dengan harta yang sudah diperolehnya, itulah sebabnya Rasulullah menggambarkan betapa tercelanya sifat tamak itu dengan sabdanya :  “ Seandainya anak keturunan Adam memiliki dua lembah harta niscaya dia masih akan mencari yang ketiga. Dan tidak akan pernah menyumbat rongga anak Adam selain tanah,”
Bapak Ibu yang dirahmati Allah, kalau boleh orang bertanya kira kira kita ini termasuk orang yang tamak atau bukan ya ?, Terus bagaimana cara mengobati supaya kita tidak tamak ? Kalau kita belajar dari riwayat kehidupan para ulama shalaf, kita dapati orang orang sholeh terdahulu dalam menjalani hidup ini lebih suka hidup ” pas pasan”. Bahkan orang awam melihatnya mereka sepertinya hidup dalam kemiskinan, padahal tidak demikian. Pertanyaannya mengapa mereka memilih hidup dengan cara begitu ?
Karena orang orang sholeh itu ingin selamat dunya wal akhirah, mereka mengkondisikan hatinya untuk tidak mencintai harta benda. Sebab bagi mereka harta benda itu dianggap dapat melalaikan dalam mengingat  Allah, harta benda merupakan sumber fitnah dunia sekaligus merupakan ujian yang besar bagi pemilikinya. Karena itu orang sholeh dulu tidak suka mengikat hatinya untuk memiliki harta yang berlebihan, mereka tidak suka hidup mewah,  mereka sekedar mengambil harta untuk kepentingan beribadah. Allah berfirman dalam QS Al Munafiqun : 9 :  “ Sesungguhnya hartamu dan anak anakmu hanyalah fitnah/ ujian bagimu dan disisi Allah pahala yang besar.”

Mereka  benar benar takut kalau hatinya dicemari sifat rakus terhadap harta dunia. Mereka tidak mau rusak ibadahnya. Mereka berusaha hidup secara qona’ah menerima apa adanya, merasa cukup atas pemberian Allah kepadanya. Makanan, pakaian dan tempat tinggal sekedar cukup dan memenuhi syarat untuk hidup,  tidak berlebih lebihan. Dalam sebuah hadits Qudsi Rasulullah bersabda : “ Tidak ada bagimu dari hartamu itu kecuali apa yang engkau makan,lalu rusak. Apa yang engkau pakai kemudian usang, atau apa yang engkau sedekahkan kemudian kau kekalkan.”

Menurut ulama shalaf :   yang dinamakan orang kaya itu adalah orang yang sedikit kebutuhannya,  sedang orang miskin itu orang yang banyak kebutuhannya, yang dimaksud kaya itu bakan kaya harta melainkan kaya hati/jiwa “. Mereka menyimpulkan, harta yang berlebih itu mengandung banyak kemudharatan dari pada manfaatnya. Itulah sebabnya Orang orang sholeh dulu sering  mengingatkan dengan nasehatnya : “ Jangan jadikan harta itu sebagai tujuan utama dalam hidupmu “. Karena menurut para shalaf harta itu ada dua macam,
~ Ada yang menyelamatkan ( yang dicari dengan cara halal ) ;
~ Ada yang  mencelakakan ( yang dicari dengan cara yang haram )

Barang siapa mendapatkannya dengan cara yang halal, lalu dimanfaatkan untuk kebaikan, misalnya menafkahi keluarga, sebagian disisihkan untuk fi sabililah, maka harta itu akan menjadi sangat bermanfaat. Kelak akan menjadi penolong diakherat.
Sedangkan harta yang mencelakakan adalah yang dicari dengan cara cara yang haram. Orang yang mencari harta dengan cara yang haram maka hatinya akan menjadi rakus. Ia tak akan puas dengan apa yang telah didapatkannya. Justru ia semakin kikir, bagaikan orang yang makan tetapi tidak pernah merasa kenyang. Kelak harta yang ia dapatkan akan mencelakakan ketika diakherat.

 Adapun harta yang diperoleh dari cara yang haram mengandung tiga  keburukan :
1. Mendorong seseorang berbuat maksiat,
2. Mendorong seseorang  bersenang senang dalam mubah.
3. Dibikin sibuk sehingga dapat melalaikanAllah.

Bapak Ibu yang dirahmati Allah, mudah mudahan ditahun baru ini ketakwaan dan keimanan kita semakin bertambah, kita semakin  giat beramal sholeh hidup dengan cara qona’ah dan meninggalkan sifat tamak yang mencelakakan.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar